Cara Memilih Pendapat Ulama dalam Sebuah Permasalahan Syar’i

391

Ustadz, sebagai seorang yang belum kapabel berijtihad, bagaimanakah cara memilih pendapat ulama yang dengan mudah kita akses lewat internet atau membaca buku? Adakah rambu-rambu dalam memilih salah satu dari pendapat mereka? Kelirukah kita bila memilih selain pendapat jumhur (kebanyakan) ulama?

***

الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهٌ

Murah dan mudahnya sarana telekomunikasi hari ini memang memanjakan kaum muslimin dan siapa saja yang hendak mengakses berbagai pendapat para ulama dalam suatu masalah, baik masalah klasik maupun masalah kontemporer. Namun, seperti pisau bermata dua, di sisi lain dari kemanfaatan yang dikandung, hal ini juga mengandung mudarat. Terutama jika para pengakses tidak menepati rambu-rambu yang telah dijelaskan oleh para ulama terkait dengan cara dan etika memilih pendapat mereka saat mereka berbeda pendapat.

Orang-orang yang belum kapabel berijtihad pada asalnya punya kewajiban untuk bertanya kepada ahli ilmu atau mujtahid saat mereka menghadapi suatu masalah yang hukumnya belum mereka ketahui. Allah berfirman,

 فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada ahli dzikir (ulama) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Orang-orang yang belum kapabel ini tidak boleh menentukan sendiri hukum suatu masalah yang dihadapinya. Menentukan hukum sendiri padahal belum kapabel sama dengan mengikuti diri sendiri yang termasuk dalam larangan Allah. Allah  berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya!.” (QS. Al-Isra’: 36)

Mereka boleh mendatangi mujtahid mana pun untuk mendapatkan jawabannya. Hanya saja, mendatangi dan bertanya kepada mujtahid itu kini menjadi sikap yang langka. Orang lebih suka mengakses sendiri pendapat para ulama yang terserak di dunia maya (internet) dan di toko buku. Meskipun, akhirnya hal itu membuat mereka bingung, mana pendapat yang harus dipilih.

Orang-orang yang belum kapabel ini diklasifikasi menjadi dua. Pertama, yang dapat memahami metode istidlal dan wajhul istidlal para ulama; dan kedua, yang tidak mengetahuinya.

Kewajiban mereka yang mengetahui metode istidlal dan wajhul istidlal para ulama adalah memilih pendapat yang menurut ilmu mereka adalah pendapat yang paling kuat (rajih), meskipun itu bukan pendapat kebanyakan ulama. Pendapat kebanyakan ulama belum tentu benar. Yang menjadi sandaran adalah dalil. Tentu saja, kesungguhan dan kejujuran hati dipertaruhkan di sini.

Adapun mereka yang tidak mengetahui metode istidlal, memilih pendapat kebanyakan ulama (jumhur ulama), memilih pendapat yang paling hati-hati, bersikap wara’, dan khuruj minal khilaf (keluar dari perbedaan pendapat) adalah beberapa alternatif sikap yang baik. Pendapat kebanyakan ulama—meskipun tidak pasti benar—sering kali mendekati kebenaran.

Wahb bin Munabbih pernah ditanya tentang cara memilih pendapat ulama bagi mereka yang tidak mengetahui metode istidlal para mujtahid. Wahb menjawab, “Pilihlah yang paling disukai oleh hawa nafsumu untuk kamu tinggalkan.”

Lantaran pilihan non-mujtahid yang satu dengan yang lain sangat mungkin berbeda, maka mereka tidak boleh saling mengingkari. Selama perkara yang diperselisihkan adalah perkara ijtihadi, toleransi adalah sikap yang dipegangi oleh Ahlussunnah waljamaah dalam hal ini. Wallahu a’lam. [Abu Zufar/tarjihfatwa.com]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.