Mengenal Murid-Murid Senior Imam Asy-Syafi’i

2,206

Pondasi madzhab Syafi’i dibangun secara langsung oleh Imam Asy-Syafi’i sendiri melalui karya-karya beliau di bidang fiqih dan ushul fiqih. Hal itu berperan besar dalam menjadikan madzhab Syafi’i sebuah madzhab fiqih yang kokoh, jelas jalannya, dan mudah, tidak saja bagi para ulama madzhab Syafi’i, namun juga bagi para pengkaji fiqih secara umum.

Imam Asy-Syafi’i dikaruniai murid-murid yang cerdas dan tekun belajar kepada beliau, baik di Irak maupun Mesir. Para murid tersebut adalah para pelanjut dan penyebar madzhab fiqih beliau di tengah umat Islam.

Murid beliau sangat banyak, namun yang paling terkenal dan paling besar peranannya dalam menyebar luaskan madzhab beliau ada sepuluh (10) orang. Empat orang adalah murid senior di Irak dan enam orang lainnya adalah murid senior di Mesir.

 

MURID SENIOR DI IRAK

Murid Imam Asy-Syafi’i di Irak yang meriwayatkan al-qaul al-qadim sangat banyak. Di antara mereka, ada empat orang murid yang palling terkenal dan paling berjasa. Mereka adalah:

  1. Hasan Az-Za’farani, yaitu Abu Ali Hasan bin Muhammad az-Za’farani al-Baghdadi. Ia adalah murid senior beliau di Irak yang terakhir kali wafat (wafat tahun 260 H).
  2. Ahmad bin Hambal, yaitu Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal Asy-Syaibani (wafat  tahun 241 H). Kelak ia menjadi imam madzhab tersendiri, yaitu madzhab Hambali.
  3. Abu Tsaur Al-Kalbi, yaitu Ibrahim bin Khalid bin Abil Yaman Al-Baghdadi (wafat tahun 240 H).
  4. Abu Ali Al-Karabisi, yaitu Husain bin Ali bin Yazid al-Baghdadi al-Karabisi (wafat tahun 245 H).

 

MURID SENIOR DI MESIR

Murid senior Imam Asy-Syafi’i di Mesir yang paling terkenal dan paling berjasa dalam meriwayatkan al-qaul al-jadid adalah:

  1. Abu Ya’qub al-Buwaithi, yaitu Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi al-Qurasyi (wafat tahun 231 H). Ia adalah murid paling senior dan paling faqih. Ia telah diberi izin memberi fatwa oleh Imam Asy-Syafi’i saat beliau masih hidup. Di akhir hayatnya saat sakit, Asy-Syafi’i menunjuk al-Buwaithi untuk menggantikan posisi beliau mengajar. Setelah Asy-Syafi’i wafat, tugas itu dilaksanakan oleh al-Buwaithi selama 20 tahun lamanya, hingga akhirnya beliau dipenjara di Baghdad dan meninggal dalam penjara dalam kasus Khalqul Qur’an pada masa khalifah Al-Mu’tashim. An-Nawawi dan para ulama Syafi’iyah menegaskan bahwa Al-Buwaithi lebih agung dibandingkan Al-Muzani dan Rabi’ bin Sulaiman.
  2. Abu Ibrahim Al-Muzani, yaitu Ismail bin Yahya bin Ismail Al-Muzani (wafat tahun 264 H). dialah murid senior yang menggantikan posisi mengajar di Mesir setelah Al-Buwaithi dipenjarakan di Baghdad. Ia seorang murid yang sangat cerdas, biasa berdiskusi dan berdebat dengan ulama madzhab lainnya, dan di akhir hayatnya mencapai derajat mujtahid mutlaq (mujtahid mustaqil). Ia meringkas kitab-kitab fiqih Asy-Syafi’i dalam karyanya al-Mukhtashar al-Kabir dan al-mukhtashar al-shaghir. Kitab Al-Mukhtashar as-Shaghir atau Mukhtashar al-Muzani adalah ringkasan dari kitab al-Umm Imam asy-Syafi’i. Kitab ini mendapat perhatian luar biasa dari para ulama Syafi’iyah.
  3. Rabi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar al-Muradi (wafat tahun 270 H). Ia adalah murid Asy-Syafi’i di Mesir yang paling menguasai hadits dan paling baik hafalannya. Dialah yang selama 66 tahun setelah wafatnya Asy-Syafi’i menjaga dan meriwayatkan fiqih Asy-Syafi’i dengan tingkat kedhabitan yang luar biasa.
  4. Harmalah, yaitu Abu Hafsh Harmalah bin Yahya at-Tujaibi (wafat tahun 243 H). Ia seorang murid senior yang juga seorang ulama hadits. Ia mengarang al-mukhtashar dan al-mabsuth.
  5. Rabi’ bin Sulaiman bin Daud Al-Jizi (wafat tahun 256 H).
  6. Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi (wafat tahun 264 H). Ia adalah murid senior yang ahli hadits dan cerdas.

 

PERANAN TRIO MURID SENIOR MESIR

Tiga murid senior Imam Asy-Syafi’i yang paling menonjol di Mesir adalah Al-Buwaithi, Al-Muzani, dan Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi. Kehadiran ketiga murid senior yang sangat brilian ini merupakan karunia Allah yang sangat agung bagi madzhab Syafi’i. Al-Buwaithi berperan besar menyatukan murid-murid Asy-Syafi’i dan meneruskan pengajaran madzhab asy-Syafi’i kepada mereka. Al-Muzani berperan besar dalam membela madzhab Syafi’i dengan hujah-hujah yang kuat dan karangan-karangannya yang hebat. Rabi’ bin Sulaiman berperan besar meriwayatkan ilmu-ilmu Asy-Syafi’i dengan tingkat kedhabitan yang sangat kuat selama lebih dari 50 tahun.

Ketiga murid senior Asy-Syafi’i di Mesir tersebut adalah para peletak pondasi kedua bagi bangunan madzhab Syafi’i. Mereka menjadi satu kesatuan yang utuh selama periode kehidupan mereka setelah wafatnya Imam Asy-Syafi’i, 204 – 270 H. Rentang waktu yang cukup panjang tersebut telah menjadi masa emas pengkaderan para ulama pelanjut madzhab Syafi’i. Buahnya bisa dilihat sampai tahun 400 H, dengan lahirnya ratusan ulama besar madzhab Syafi’i dan perhatian yang besar terhadap kitab-kitab madzhab Syafi’i yang diriwayatkan dari jalur ketiga murid senior Asy-Syafi’i tersebut. Demikian diuraikan oleh Dr. Akram Yusuf Umar Al-Qawasimi dalam disertasinya, Al-Madkhal Ila Madzhab Al-Imam Asy-Syafi’i, hlm. 311-315. Wallahu a’lam bish-shawab [Abu Ammar/tarjihfatwa.com]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.