Serial Tafsir Surat Al-‘Alaq: #3 Surat Al-‘Alaq Ayat 2

217

TAFSIR AL-‘ALAQ, AYAT 2

 

Allah SWT berfirman,

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

  1. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

 

Pada ayat pertama, Allah SWT menyebutkan penciptaan makhluk, tanpa menyebut jenis makhluk tertentu. Para ulama tafsir menyatakan bahwa hal itu mencakup seluruh makhluk secara umum, tanpa terkecuali. Artinya, Allah-lah yang telah menciptakan seluruh makhluk dengan kekuasaan-Nya.

Pada ayat kedua ini, Allah SWT secara khusus menyebutkan penciptaan manusia. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hal itu mengandung dua pelajaran penting. Pelajaran pertama adalah isyarat bahwa manusia adalah makhluk yang mulia, sehingga secara khusus disebutkan penciptaannya oleh Allah Sang Khaliq.

Pelajaran kedua adalah penjelasan tentang keagungan Allah dalam menciptakan manusia. Manusia diciptakan dengan wajah dan bentuk fisik yang sangat sempurna. Manusia juga diciptakan dengan bekal akal sehat, hati nurani, dan hawa nafsu sekaligus. Penciptaan manusia lebih rumit dan lebih agung daripada penciptaan tumbuhan, hewan, jin, dan malaikat sekalipun. (Prof. Dr. Musthafa Muslim, At-Tafsir Al-Maudhu’i Li-Suwar Al-Qur’an Al-Karim, Juz IX hlm. 253)

Dalam ayat kedua ini juga terdapat penjelasan tentang asal mula penciptaan manusia. Adam, sebagai manusia pertama, diciptakan dari tanah. Adapun umat manusia, anak keturunan Adam dan Hawa, diciptakan dari setetes air mani. Air mani laki-laki (sperma) bertemu dengan air mani wanita (ovum), maka terjadilah proses pembuahan dalam rahim wanita (lihat: QS. Al-Insan [76]: 2). Dalam ayat al-Qur’an dan hadits, air mani tersebut disebut nuthfah.

Nuthfah akan bertahan selama 40 hari dalam rahim seorang wanita. Dalam 40 hari berikutnya, nuthfah berkembang menjadi segumpal darah beku seukuran kepalan tangan, yang menggantung pada dinding rahim. Ayat Al-Qur’an dan hadits menyebutnya ‘alaqah, yang secara harfiah berarti “sesuatu yang menggantung”. Karena bentuknya berupa darah beku sebesar satu kepalan tangan, lafal ‘alaq atau ‘alaqah seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan makna “segumpal darah”.

Ayat kedua surat Al-Alaq ini merupakan ayat pertama yang membahas proses penciptaan manusia di alam rahim. Setelah turunnya surat Al-Alaq, berturut-turut kemudian turun surat-surat lainnya yang menjelaskan proses penciptaan manusia secara lebih rinci. Di antaranya adalah surat Al-Hajj [22]: 5, Al-Mukminun [23]: 12-14, Al-Mukmin [40]: 67, dan banyak ayat lainnya. Proses penciptaan manusia secara lengkap juga disebutkan dalam hadits yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari riwayat Abdullah bin Mas’ud RA.

Hal yang sungguh sangat mengagumkan dari ayat kedua surat Al-Alaq ini adalah bagaimana Al-Qur’an, sejak awal pertama kali turun, telah menghasung umat manusia untuk meraih ilmu pengetahuan. Sejak 14 abad silam, Al-Qur’an telah memberikan kunci-kunci bagi pencapaian ilmu kedokteran dan ilmu pengetahuan modern lainnya. Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan. Al-Qur’an bukanlah diktat untuk mahasiswa kedokteran. Al-Qur’an juga bukan diktat pelajaran biologi.

Namun sejak 14 abad lalu, Al-Qur’an telah memaparkan ilmu-ilmu kedokteran, biologi, dan pengetahuan alam lainnya. Apa yang dipaparkan oleh Al-Qur’an tersebut menjadi titik awal bagi pencapaian umat manusia di bidang kedokteran, biologi, dan ilmu pengetahuan modern.

Al-Qur’an telah membahas tentang asal mula dan proses penciptaan manusia, di tengah masyarakat Arab yang mayoritasnya buta huruf. Al-Qur’an telah membahas ilmu pengetahuan yang sangat maju dan detail tersebut, di saat puncak pencapaian sastra tertinggi bangsa Arab masih berupa syair-syair tentang minuman keras, kecantikan wanita, dan peperangan antar suku.

Pada saat yang sama, bangsa-bangsa yang dianggap berperadaban tertinggi di dunia pun (seperti Yunani kuno, Romawi kuno, India Kuno, China Kuno, dan Mesir Kuno) belum memahami ilmu tersebut. Bahkan, umat manusia di muka bumi baru mengenal ilmu yang dipaparkan oleh Al-Qur’an tersebut sekitar 13 -14 abad setelah turunnya surat Al-‘Alaq. Allahu akbar, Al-Qur’an benar-benar mukjizat yang tak tertandingi.

Wallahu a’lam bish-shawab [Abu Ammar]

 

Baca Serial Tafsir Surat Al-‘Alaq:    SERI #1 | SERI #2 | SERI #3 | SERI #4 | SERI #5 | SERI #6

 

REFERENSI

Ismail bin Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Beirut: Darul Kitab Al-Arabi, cet. 1, 1432 H.

Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jami’ li-Ahkam Al-Qur’an, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1427 H.

Muhammad bin Jarir At-Thabari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili Ayyil Qur’an, Kairo: Dar Hajar, cet. 1, 1422 H.

Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Ad-Ad At-Tunisiyah, cet. 1, 1984 H.

Prof. Dr. Muhammad Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil ‘Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Damaskus: Darul Fikr, cet. 10, 1430 H.

Prof. Dr. Abdurrahman bin Hasan Habannakah Al-Maidani, Tafsir Ma’arij At-Tafakkur wa Daqaiq At-Tadabbur, Damaskus: Darul Qalam, cet. 1, 1420 H.

Prof. Dr. Musthafa Muslim, At-Tafsir Al-Maudhu’i Li-Suwar Al-Qur’an Al-Karim, Sharjah: Jami’ah Ash-Shariqah, cet. 1, 1431 H.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.