Serial Tafsir Surat Al-‘Alaq: #5 Surat Al-‘Alaq Ayat 4

183

TAFSIR AL-ALAQ, AYAT 4

 

Allah SWT berfirman,

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

  1. Yang telah mengajarkan (ilmu) dengan perantaraan pena.

 

Dalam ayat keempat di atas, Allah menjelaskan salah satu nikmat-Nya kepada umat manusia. Nikmat tersebut berupa pengajaran ilmu. Sarananya adalah pena. Saat ayat ini diturunkan kepada Rasulullah SAW, mayoritas bangsa Arab adalah kaum yang buta huruf. Mereka tidak bisa membaca dan menulis. Penyebutan pena dalam ayat ini mengandung hikmah-hikmah yang mulia.

Hikmah Pertama, mengajarkan kepada umat Rasulullah SAW secara khusus, dan umat manusia secara umum, tentang urgensi tulisan. Pena adalah benda mati. Ia tidak memiliki nyawa dan tidak bisa bergerak dengan sendirinya. Namun ketika manusia telah menggerakkan pena untuk menulis, maka tulisan tersebut seakan-akan menjadi sesuatu yang hidup. Tulisan tersebut bisa menjadi sarana penyampaian pesan kepada orang lain.

Maka lahirlah bahasa tulisan sebagai alat komunikasi sesama manusia. Seiring perjalanan zaman, tulisan berkembang menjadi alat transfer ilmu pengetahuan dalam wujud buku, koran, majalah, jurnal, buletin, artikel di internet atau media sosial, dan lain-lain. Urusan dunia umat manusia juga sangat bergantung kepada keberadaan tulisan. Sebab, tulisan menjadi sarana mendokumentasikan segala bentuk transaksi, seperti jual beli, sewa-menyewa, hutang piutang, gadai, wasiat, dan lain-lain.

Hikmah Kedua, mengajarkan kepada umat Islam secara khusus, dan umat manusia secara umum, bahwa bahasa tulisan tidak kalah efektifnya dari bahasa lisan. Dalam banyak kesempatan, manfaat bahasa tulisan bahkan jauh melampaui manfaat bahasa lisan.

Contohnya, seorang ulama menyampaikan pengajian di hadapan 100 orang hadirin. Manfaat langsung dari pengajian dari bahasa lisan tersebut hanya dipetik oleh 100 orang yang hadir. Lain halnya dengan bahasa tulisan. Seorang ulama menuliskan ilmunya dalam sebuah buku, maka buku tersebut bisa dibaca oleh jutaan orang, di berbagai tempat dan waktu yang berbeda.

Contoh, mushaf Al-Qur’an yang ditulis di masa khalifah Abu Bakar As-Shiddiq, yaitu tahun 11/12 H, sampai hari ini telah dibaca oleh lebih satu milyar kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Manfaat tulisan tersebut tidak pernah berkurang, bahkan semakin hari semakin bertambah, meski telah berlalu lebih dari 1425 tahun dari saat ditulis. Walaupun para penulisnya telah wafat, namun pahalanya tetap mengalir ke “rekening Subhanallah, demikian dahsyatnya manfaat dan pahala dari tulisan saat diniatkan untuk memperjuangkan agama Islam.

Contoh lainnya, kitab hadits Shahih Al-Bukhari yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (wafat tahun 251 H). Beliau telah meninggal kurang lebih 1180an tahun yang lalu. Namun kitab haditsnya sampai hari ini terus dipelajari oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia. Ilmu beliau tetap bisa dipetik oleh kaum muslimin, walaupun beliau telah lama meninggal, dan meskipun kaum muslimin tidak bertemu secara langsung dengan beliau. Semua karunia yang agung ini adalah hikmah dari keberadaan pena dan tulisan.

Hikmah Ketiga, menulis itu sebuah ketrampilan yang diperoleh dengan belajar, latihan, dan mencoba secara terus-menerus. Kemampuan menulis bukanlah sebuah keahlian yang dibawa seseorang sejak lahir. Maka ayat ini secara tidak langsung menghasung umat Islam untuk belajar menulis dan mengajarkan penulisan.

Bagi seorang guru, mengajarkan tata cara menulis adalah ibadah yang berpahala. Bagi seorang murid, belajar tata cara menulis pun adalah ibadah yang berpahala. Umat Islam sebagai umat yang menerima wahyu Al-Qur’an ini hendaklah belajar menulis dan mengajarkan penulisan, sehingga mereka menjadi umat yang terpelajar.

Abdullah bin Amru bin Ash RA berkata, “Ikatlah ilmu dengan cara menuliskannya.” (HR. Al-Hakim dan Ath-Thabarani)

Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menulis, “Oleh karena itu Islam memulai dakwahnya dengan menganjurkan untuk membaca dan menulis. Islam menjelaskan bahwa membaca dan menulis adalah salah satu bukti keagungan Allah dalam diri makhluk-Nya dan merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Ia juga merupakan mukjizat Rasulullah SAW yang abadi, sebab (pada awalnya) beliau adalah seorang Arab yang buta huruf. Allah karuniakan kepadanya Al-Qur’an yang dibaca, sekaligus kitab suci yang ditulis. Dengannya Rasulullah SAW mengantarkan umatnya dari kondisi buta huruf dan kebodohan menuju cakrawala cahaya dan ilmu.” (Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil Aqidah wasy Syari’ah wal Minhaj, juz XV hlm. 706)

Wallahu a’lam bish-shawab. [Abu Ammar]

 

Baca Serial Tafsir Surat Al-‘Alaq:    SERI #1 | SERI #2 | SERI #3 | SERI #4 | SERI #5 | SERI #6

 

REFERENSI

Muhammad Thahir bin Asyur At-Tunisi, Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir, Tunis: Ad-Ad At-Tunisiyah, cet. 1, 1984 H.

Prof. Dr. Muhammad Wahbah Az-Zuhaili, At-Tafsir Al-Munir fil ‘Aqidah wa Asy-Syari’ah wa Al-Manhaj, Damaskus: Darul Fikr, cet. 10, 1430 H.

Prof. Dr. Abdurrahman bin Hasan Habannakah Al-Maidani, Tafsir Ma’arij At-Tafakkur wa Daqaiq At-Tadabbur, Damaskus: Darul Qalam, cet. 1, 1420 H.

Prof. Dr. Musthafa Muslim, At-Tafsir Al-Maudhu’i Li-Suwar Al-Qur’an Al-Karim, Sharjah: Jami’ah Ash-Shariqah, cet. 1, 1431 H.

Sa’id Hawa, Al-Asas fi At-Tafsir, Kairo: Darus Salam, cet. 1, 1405 H.

Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsir Mahasin At-Ta’wil, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, cet. 2, 1424 H.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.