Upah Menggali Kubur dan Memandikan Jenazah, Apa Boleh Diterima?

371

Ustadz, menjadi kebiasaan di kampung saya, jika ada yang meninggal dunia, maka siapa yang menggali kubur untuk yang meninggal dunia diupah. Demikian pula halnya dengan yang memandikannya, mengkafaninya, dan menyolatinya. Bolehkah saya mengambil uang upah menggali kubur tersebut? (Mu’adz—Jakarta)


Para ahli fikih membedakan antara ibadah mahdhah (yang bersifat vertikal, hubungan hamba dengan Allah saja) dengan ibadah ghairu mahdhah (yang mengandung sifat horizontal, hubungan hamba dengan sesama). Untuk ibadah mahdhah, seseorang tidak diperbolehkan meminta upah atas perbuatannya. Jika ia memintanya, maka ia tidak mendapatkan balasan ukhrawi. Tidak ada pahalanya lagi. Sedangkan untuk ibadah-ibadah ghairu mahdhah, seseorang boleh meminta upah atas perbuatannya.

Contoh ibadah mahdhah adalah shalat, puasa, membaca al-Qur`an, dan lain sebagainya. Sedangkan contoh ibadah ghairu mahdhah adalah membangun rumah, mencangkul di sawah, memelihara ternak, dan lain sebagainya.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa pekerjaan menggali kubur, memandikan, dan mengkafani jenazah boleh diupah; sedangkan shalat jenazah tidak boleh diupah. Tentu kalau semua aktivitas penyiapan jenazah dikerjakan tanpa upah lebih baik. Wallahu a’lam. [tarjihfatwa.com]

1 Comment
  1. deni oktaviano says

    makasih admin atikelnya sangat membantu ditunggu artikelnya sangat membantu

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.